Tampilkan postingan dengan label Iman Katolik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Iman Katolik. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Maret 2012

Fallacies: Argumentum Ad Verecundiam


Fallacies: Argumentum Ad Verecundiam

oleh Iman Katolik pada 2 Januari 2012 pukul 20:27 ·
Fallacies: Argumentum  Ad Verecundiam atau dalam bahasa Indonesianya disebut Kesesatan Berpikir: Argumen yang berdasarkan Otoritas adalah sebuah pemikiran yang salah dalam melakukan sebuah dialog yang sehat, kesesatan berpikir ini digunakan oleh orang-orang terhadapOtoritas yang salah, tidak pada tempatnya, patut dipertanyakan, tidak berguna dan tidak ada hubungannya. Dalam berdialog sehat, apalagi dialog agama, Gereja Katolik menolak cara berdialog dengan pemikiran ini, kita tahu Gereja Katolik memiliki Otoritas yang pasti dalam Pengajaran Katolik-Nya, dan Otoritas tersebut bukan pada seseorang, bukan juga berdasarkan perasaan orang (argumen menggunakan perasaan juga adalah cara berpikir yang sesat/Fallacies), adalah Magisteriumlah yang mempunyai Otoritas dalam hal pengajaran Katolik dimana pengajaran Magisterium berpegang pada Tradisi Suci dan Kitab Suci, dimana Yesus memberikan otoritas pengajaran hanya kepada Magisterium. Kita akan mengambil contoh-contoh cara berpikir sesat ini (nama-nama adalah fiktif/tidak nyata, apabila ada menggunakan nama nyatapun tidak bermaksud untuk mendiskreditkan nama orang tersebut, dalam arti hanya mengambil/meminjam namanya sebagai contoh):

1. Otoritas yang salah:si Andi dan Budi berdiskusi mengenai ajaran Katolik tentang Aborsi:Si Andi mengatakan Aborsi itu boleh karena Romo Agus mengajarkan demikian, Si Budi mengatakan sebaliknya dengan Argumen yang diberikan berdasarkan apa yang diajarkan Magisterium (baik berupa dokumen-dokumen Gereja).

dalam hal ini si Andi melakukan kesesatan berpikir Argumentum  Ad Verecundiam, karena si Andi menggunakan Otoritas yang salah.


2. Otoritas tidak pada tempatnya:
Si Arif Dokter dan pernah mengikuti acara seminari Katolik dari Inggrid Katolisitas.org, si Arif menyimpulkan bahwa bu Inggrid sangat dangkal dan kurang berpengalaman dalam menjelaskan Ajaran Katolik

dalam hal ini si Arif yang adalah sebagai Dokter telah melakukan kesesatan berpikir Argumentum  Ad Verecundiam, karena menggunakan Otoritas tidak pada tempatnya dalam berkesimpulan bahwa bu Inggrid Katolisitas.org dangkal dan kurang berpengalaman dalam menjelaskan Ajaran Katolik, ada perbedaan disini bahwa si Arif menggunakan Otoritasnya sebagai Dokter untuk menyimpulkan sesuatu yang dimana bukan dalam Otoritas si Arif, tetapi akan menjadi cara berpikir/ argumen yang benar apabila si Arif yang berprofesi sebagai Dokter menyimpulkan bahwa bu Inggrid Katolisitas.org masih dangkal menjelaskan Ajaran Katolik apabila si Arif melampirkan dokumen-dokumen dari Otoritas yang memiliki kapasitas dalam masalah tersebut (dalam hal ini Magisterium)


3. Otoritas yang Patut diPertanyakan:
admin Katolik Menjawab melakukan argumentasi dengan tidak membawa dokumen Magisterium

dalam hal ini admin KM melakukan Argumentum  Ad Verecundiam karena admin KM menggunakan otoritas mengajarkan ajaran Katolik berdasarkan apa yang menurut admin benar (menggunakan pemikiran/perasaan subjektif/berdasarkan perasaan/pemikiran diri sendiri) bukan berasal dari Magisterium


4. Otoritas yang Tidak berguna:
Romo Kevin adalah profesor Fisika, karena pasti pintar, maka romo Kevinpun ketika mengajarkan Ajaran Katolik pasti benar.

dalam hal ini orang yang menganggap romo Kevin dalam pengajaran Ajaran Katolik pasti benar telah melakukan kesesatan berpikir Argumentum  Ad Verecundiam, karena Otoritas yang pasti benar dalam mengajarkan Ajaran Katolik berada pada Magisterium.


5. Otoritas yang Tidak ada Hubungannya:
si Ardine berdiskusi dengan si Jiwo mengenai Bunda Maria apakah pantas disebut Bunda Allah atau tidak, kedua-duanya adalah orang Katolik (baik Ardine dan Jiwo), Ardine beragumen berdasarkan apa yang diajarkan Magisterium, si Jiwo menggunakan pendapat/argumen seorang Atheis.

Jiwo telah melakukan Argumentum  Ad Verecundiam karena menggunakan pendapat seorang Atheis mengingat Jiwo adalah orang Katolik, akan menjadi cara berpikir yang tidak sesat apabila si Jiwo ini adalah bukan non-Katolik/ seorang Atheis.


ut habeatis fidem in Eclessia Catholica

Kamis, 09 Februari 2012

Kisah Nyata Seorang Sahabat

LUKA ITU SUNGGUH SAKIT
(Percakapan Hati Dua Sahabat)


Sapaan seorang sahabat,

Setelah memposting renungan tentang Herodias yang karena iri dan dendamnya kepada Yohanes Pembaptis tega menodai kepolosan jiwa sang putrinya dengan permintaannya untuk mendapatkan kepala Yohanes Pembaptis sebagai renungan pagi beberapa hari yang lau, seorang sahabat mengirimkan sharingnya kepadaku seperti yang tertulis dalam tulisan yang Anda sedang baca ini.

Atas izinnya, aku mengcopy paste saja pembicaraan singkat kami agar menjadi pelajaran bagi para orang tua sekalian untuk berhati-hati dalam mendidik dan menjaga anak-anak yang yang dititipkan Tuhan kepadamu. Penyesalan memang berguna tapi tidak akan mampu mengubah sesuatu yang pernah terjadi di masa lampau. Apa yang bisa kita perbuat adalah belajar dari pengalaman masa lampau agar menjadikan masa depan lebih baik, atau setidak-tidaknya pengalaman masa lampau tidak akan terulang kembali di masa depan dalam bentuk apapun.


Sahabatku :

Romo yang terkasih ...Selamat pagi.

Salam dalam damai Tuhan Yesus dan Bunda Maria ...

Membaca renungan Romo pagi ini ...sungguh membuat hatiku menangis ...

Bagaimana tidak Romo ...

Lebih satu bulan yang lalu anakku yang terkasih mengalami pelecehan seksual ... dari suami orang yang kuanggap sebagai wakil seorang ibu ... tempat aku menitipkan mereka saat aku bekerja ...hingga kini aku masih tidak bisa memaafkan diriku ...
Seandainya hari itu aku memilih tidak berangkat bekerja ...
hal itu tidak akan terjadi ...
Seandainya aku tidak menitipkan si kecil di situ ...hal itu tidak akan terjadi ...
Seandainya aku bisa pulang lebih cepat ... hal itu tidak akan terjadi ...
Seandainya ... seandainya ...sebuah penyesalan yang tak berbatas dan bertepi, romo…

Dan aku tentu saja belum bisa memaafkan dia yang melakukan hal itu ...
Seandainya bisa ... aku akan menuntutnya lewat jalur hukum .. tapi aku tidak lakukan karena menghormati istrinya yang begitu penuh kasih kepada anak-anakku ... dan aku telah memilih jalan damai ...
Seandainya bisa ... pada waktu itu aku harusnya memukulnya ... atau meludahinya ... atau membunuhnya ... karena apa yang telah dia lakukan kepada si kecilku ...

Ah, romo ... sakit sekali di dada ini ...
hanya 1 bulan pelaku itu menghilang dari hadapanku ... namun kini ia sudah kembali ke rumahnya dan sangat sangat membuat sakit mataku ....

Semoga Tuhan berkenan mengirimkan malaikat-Nya untuk menahanku dari rasa marah dan dendam yang menggerogoti hati dan pikiranku saat ini...

Segala sumpah serampah ... pandangan mata yang menghakimi ... dariku ... kadang lupa kulakukan ... di depan mata si kecilku ...

Aku sebenarnya tidak ingin melakukan itu ...
Aku tahu Tuhan pasti sedih atas apa yang dialami si kecilku ...
dan kuyakin Tuhan juga sedih atas apa yang kurasakan ...
namun aku tak kuasa membendung rasa benci itu ...
aku tak ingin si kecil ikut merasakan benciku ...

Tolonglah aku Romo ...doakanlah aku ...

Dari aku yang sangat berdosa ini ...


Aku:

Saudaraku,
Aku ikut prihatin dengan keadaanmu terutama si kecil yang tidak berdosa itu, yang harus menanggung beban itu seumur hidupnya.

Pengampunanmu adalah obat untuk luka2mu saudaraku...walaupun ini yang harus Anda sadari bahwa luka itu tidak bisa sembuh total, bahkan mungkin engkau bawa sampai mati...

Karena itu, apa yang harus Anda perbuat adalah mendoakannya setiap saat...mohon Tuhan mengambil alih semua deritamu dan berjuang untuk menjadikan si kecil dan hidupnya menjadi bahagia kelak...

Mungkin itu yang bisa Anda buat saat ini, karena sesungguhnya kita tak pernah bisa kembali mengubah sesuatu yang pernah terjadi di masa lampau...

Mari kita berdoa bersama semoga semuanya menjadi indah di mata Tuhan.....
Kepasrahan dan pengampunanmu adalah hukuman bagi si pelaku....dalam konteks ini Tuhan tahu yang terbaik untuk si pelaku dan si kecilmu.

Saudaraku yang terkasih....

Kalau tidak keberatan, bolehkah aku membuat sharingmu menjadi sebuah tulisan....tentunya sebelum posting aku akan memintamu untuk mengoreksi....
Tapi kalau rasa berat maka tidak apa2....
Saya hanya berpikir bahwa kisahmu akan menjadi pelajaran berharga bagi teman-teman lain untuk menjaga anak2 mereka.

Sahabatku:

Tidak apa-apa Romo ....
Bukankah Tuhan akan membuat hal yang paling buruk pun
menjadi sebuah kebaikan ...
Terima kasih atas suport Romo padaku ...

Aku:
Terima kasih atas izinnya....nantikan saja tulisannya....dan pastikan bahwa Tuhan akan menyapa banyak orang dengan kisah ini.

Hari ini, sahabatku memberi izin, sehingga tulisan itu bisa Anda baca saat ini. Aku kemudian menulis catatan terakhir sebagai ungkapan terima kasihku kepadanya sebagai berikut:

Kembali kasih saudaraku.....Percayalah bahwa engkau tidak pernah terlambat untuk membuat sesuatu yang indah bagi sang kecilmu....Apa yang kurang darimu tapi ketika engkau melakukannya dengan tulus, maka pasti akan disempurnakan oleh Dia, Sang Pemilik sesungguhnya dari si kecil.


Teman-teman yang terkasih,

Bila memang orang lain percaya kepadamu, menjadikanmu sebagai pagar atas tanaman mereka, maka tolong jangan Anda merusak dan mematikan tanaman yang ada di dalam lindunganmu. Mungkin sang pemilik di dunia ini tidak bisa membalas perbuatanmu, tapi Dia, dan hanya Dia yang di atas tidak pernah menutup mata dan telinga-Nya terhadap jeritan si kecil yang meratap pilu hari-hari hidupnya mulai dari saat ini, sama seperti Ia pernah mendengarkan jeritan jiwa si Habel dalam cerita penciptaan.


Salam dan doa seorang sahabat untuk para sahabatnya,

***Duc in Altum***


Source : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=10150771129254638&set=a.99350589637.111403.91119074637&type=1 (Gereja Katolik)

Jumat, 20 Januari 2012

EKARISTI KUDUS SEBAGAI SUMBER SIKAP HORMAT KEPADA PARA IMAM
Belajar dari St. Fransiskus Asizi.

Add caption
Kemudian berdebar-debarlah hati Daud, karena ia telah memotong punca Saul;
lalu berkatalah ia kepada orang-orangnya: "Dijauhkan Tuhanlah kiranya dari padaku untuk melakukan hal yang demikian kepada tuanku, kepada orang yang diurapi TUHAN, yakni menjamah dia, sebab dialah orang yang diurapi TUHAN."(1Sam 24:5-6)

Seperti Daud yang menghormati Saul, karena meskipun Saul sudah menjadi seorang yang jahat, namun ia adalah orang yang telah diurapi Tuhan. Kita pun wajib memberikan penghormatan yang sepantasnya diterima para imam bukan karena pribadinya yang bisa berdosa tetapi karena tahbisannya dan Ekaristi.

Dalam tulisan ini, saya bertumpu pada spiritualitas Fransiskan, sikap hormat kepada para imam sangat ditekankan. Hal ini terlihat jelas dalam berbagai tulisan Santo Fransiskus dari Assisi sendiri dan juga beberapa riwayat hidupnya (hagiografi) yang awal. Iman dan cintanya akan Ekaristi Kudus memberikan inspirasi kepada Fransiskus untuk sangat menghormati para imam, martabat imamat dan gereja-gereja. Seorang penulis riwayat hidupnya yang awal, Beato Thomas dari Celano menulis:

Ia menginginkan rasa hormat yang besar ditunjukkan bagi tangan-tangan para imam, karena kepada tangan-tangan itu diberikan secara ilahi wewenang untuk melaksanakan misteri ini. Dia sering berkata; “Seandainya aku bertemu dengan orang kudus mana saja yang datang dari surga dan pada saat yang sama bertemu dengan seorang imam miskin yang kecil, maka pertama-tama aku menunjukkan rasa hormatku kepada sang imam dan bergegas lebih cepat untuk mencium tangan-tangannya. Karena aku akan berkata kepada orang kudus itu: ‘Hai, Santo Laurensius, tunggu! Tangan imam itu dapat memegang Sabda Kehidupan, dan memiliki sesuatu yang lebih daripada sekedar hal-hal yang bersifat manusiawi!’ ” [Riwayat Hidup Kedua 201].

Sekadar sebuah catatan: Santo Laurensius (+258) adalah seorang diakon dan martir Roma.
Penulis Kisah Ketiga Sahabat (K3S) juga membuat catatan yang berkaitan dengan penghormatan istimewa Fransiskus kepada para imam seperti berikut:

Fransiskus dengan cermat mengajak para saudara, agar mereka teguh menepati Injil Suci dan anggaran dasar yang telah mereka janjikan, khususnya mereka mesti menaruh rasa hormat dan berkhidmat kepada ibadah ilahi dan peraturan gerejawi, mendengar Misa, dan dengan amat khusyuknya menyembah Tubuh Tuhan. Ia juga menghendaki bahwa para saudara secara istimewa menghormati para imam yang menangani sakramen-sakramen yang amat luhur dan terhormat. Di mana pun mereka berjumpa dengan seorang imam hendaknya mereka menundukkan kepala dan mencium tangan mereka. Ia menghendaki bahwa para saudara, jika berjumpa dengan imam yang sedang naik kuda, tidak hanya mencium tangan imam tersebut, tetapi juga kuku kuda yang mereka tunggangi oleh karena rasa hormat kepada kuasa para imam (K3S 57).

Kualitas para klerus pada zaman Fransiskus memang sangat rendah. Kaum bidaah Kathari dan Waldensi mendeklarasikan secara blak-blakan, bahwa para imam yang hidup dalam dosa telah kehilangan kuasa-imamat mereka. Dari hari ke hari gerakan-gerakan bidaah itu semakin berkembang, malah sampai menjadi ancaman bagi Gereja. Fransiskus melawan kaum bidaah ini dengan iman-kepercayaan yang tak tergoyahkan akan Firman Allah dan Ekaristi Kudus, dua hal yang dipercayakan kepada para imam.

Seorang imam Dominikan, Stefanus dari Bourbon OP (1261) membuat catatan bagaimana Fransiskus sangat menghormati para imam: Pada suatu hari, dalam perjalanannya Fransiskus melintas di daerah Lombardy. Para penduduk sebuah desa tertentu, terdiri dari klerus dan awam, Katolik dan penganut bidaah, ramai-ramai mendatanginya. Sejumlah kaum Kathari berhasil mendekati Fransiskus, kemudian menunjuk sang pastor desa seraya berkata kepada Fransiskus: “Katakanlah kepada kami, hai orang baik, bagaimana mungkin gembala jiwa ini dapat dipercayai dan dihormati, karena dia mempunyai gundik dan melakukan dosa yang diketahui orang-orang?” Apa tanggapan Fransiskus? Dia pergi menemui imam itu, berlutut di hadapannya dan mencium tangan-tangannya, lalu berkata: “Aku tidak tahu apakah tangan-tangan ini kotor atau tidak, namun demikian kuasa sakramen yang ditata-laksanakan oleh tangan-tangan ini tidak hilang karenanya. Tangan-tangan ini telah menyentuh Tuhanku. Karena rasa hormatku kepada Tuhan, maka aku menghormati wakil-Nya; bagi dirinya sendiri mungkin dia buruk; tetapi bagiku dia baik”.

Tindakan Fransiskus yang penuh hormat kepada pastor desa tersebut sepenuhnya sesuai dengan petuahnya (Pth) kepada para saudara:
Berbahagialah hamba, yang menaruh kepercayaan kepada para rohaniwan, yang hidup tepat menurut peraturan Gereja Roma. Akan tetapi celakalah orang yang meremehkan mereka. Sebab sekalipun mereka itu pendosa, namun tidak seorang pun boleh menghakimi mereka, karena semata-mata Tuhanlah yang mengkhususkan mereka bagi diri-Nya untuk dihakimi.

Sebab semakin luhur tugas pelayanan mereka berkenaan dengan tubuh dan darah mahakudus Tuhan kita Yesus Kristus, yang mereka sambut dan hanya mereka sendiri boleh menghidangkannya kepada orang lain, maka semakin berat pulalah dosa yang dibuat orang terhadap mereka, lebih berat daripada dosa yang dibuat terhadap semua orang lainnya di dunia ini (Pth XXVI:1-4).

Tidak lama sebelum hari kematiannya, dari pembaringannya Fransiskus menyuruh tulis dalam Wasiat-nya (Was) apa yang paling berharga dalam hatinya dan paling suci di muka bumi ini:
Lalu Tuhan menganugerahkan dan masih menganugerahkan kepadaku kepercayaan yang sedemikian besar juga kepada para imam, yang hidup menurut peraturan Gereja Roma yang kudus, karena tahbisan mereka, sehingga kalaupun mereka mengejar-ngejar aku, aku tetap mau minta perlindungan pada mereka. Kalaupun aku begitu bijaksana seperti Salomo dan menjumpai imam-imam yang amat malang di dunia ini, aku tidak mau berkhotbah di paroki tempat mereka tinggal kalau mereka tidak menghendakinya. Aku menyegani mereka dan semua lainnya, mau mengasihi dan menghormati mereka sebagai tuanku. Aku tidak mau tahu tentang dosa di dalam diri mereka sebab di dalam diri mereka aku dengan jelas melihat Putera Allah, dan mereka itu adalah tuanku. Aku berbuat demikian karena di dunia ini aku sekali-kali tidak melihat Putera Allah Yang Mahatinggi itu secara jasmaniah, selain tubuh dan darah-Nya yang mahakudus, yang mereka sambut dan yang hanya mereka sendiri boleh menghidangkan-Nya kepada orang lain. Aku menghendaki, agar misteri yang mahakudus itu dihormati melampaui segala-galanya, disembah dan disimpan di tempat yang berharga (Was 6-11).

Apa yang menjadi alasan atau motif Fransiskus? Dalam “Surat Kedua kepada Kaum Beriman” (2SurBerim), Fransiskus menulis: “Kita ……… harus menaruh rasa hormat dan takzim kepada para rohaniwan; bukan pertama-tama karena orangnya sendiri – sebab bisa jadi mereka itu pendosa – tetapi karena tugas dan pelayanan tubuh dan darah Kristus Yang Mahakudus, yang mereka kurbankan di altar dan mereka sambut serta mereka bagikan kepada orang-orang lain (2SurBerim 33). Karena hanya para imam sajalah yang dapat menerima misteri Ekaristi ini dalam tangan-tangan mereka dan untuk menata-laksanakannya, maka Fransiskus sangat menghormati mereka. Jadi dapat dikatakan, bahwa penghormatan Fransiskus kepada para imam adalah semacam “derivatif” daripada penghormatannya terhadap Ekaristi Kudus. Dengan demikian, Ekaristi Kudus adalah sumber dari sikap hormat Fransiskus terhadap para imam.

CATATAN PENUTUP
Fransiskus dari Assisi bukanlah seorang imam. Ia adalah seorang diakon. Sebagai umat kebanyakan, kita semua dapat meneladan apa yang telah ditunjukkan oleh orang kudus ini selama hidupnya di dunia. Seorang imam janganlah sampai disanjung-sanjung hanya karena khotbah-khotbahnya yang bagus, penuh humor, berasal dari etnis yang sama dan lain sebagainya. Semua imam harus dihormati, dikasihi, didukung, justru karena anugerah istimewa yang diberikan Tuhan kepada mereka: “hanya oleh tangan merekalah roti dan anggur diubah menjadi tubuh dan darah Kristus”. Seperti dikatakan oleh Paus Yohanes Paulus II di atas, konsekrasi dalam Kurban Ekaristi hanya dimungkinkan karena adanya Sakramen Tahbisan Imam. Perintah Yesus bagi kita semua para murid-Nya untuk merayakan Ekaristi, “Perbuatlah ini menjadi peringatan akan Aku” [1Kor 11:24-25; bdk Luk 22:19], tidak akan terwujud sepanjang sejarah manusia kalau tidak ada para imam. Di sisi lain umat juga harus realistis dan penuh pengertian, karena seorang imam juga bukan seorang superman. Dia juga seorang manusia biasa dengan segala kelemahannya, di samping kekuatan-kekuatan yang dimilikinya, artinya dia juga dapat berpikir salah, bersikap salah dan berperilaku salah dalam situasi tertentu.

Penghormatan kepada para imam yang didasarkan pada motif Ekaristi seperti diuraikan di atas tidak akan berakibat buruk dalam bentuk kultus-individu yang sangat tidak diinginkan, terutama dalam kehidupan sebuah paroki. Penghormatan yang bermotifkan Ekaristi tidak akan menghalangi seseorang untuk berani misalnya melontarkan kritik-positifnya terhadap pastor parokinya, seandainya terdapat sesuatu yang perlu dikoreksi dalam pelaksanaan salah satu atau beberapa aspek fungsi penggembalaan pastor paroki tersebut. Ia tidak akan merasa takut. Mengapa? Karena bagi orang itu, di belakang sang pastor paroki ada figur yang jauh lebih besar dan agung: Kristus sendiri!

Cilandak, 22 Juni 2009
Peringatan dua martir Inggris: S. John Fisher, Uskup & S. Thomas More, negarawan/ Fransiskan sekular.

*) Seorang Fransiskan sekular, tinggal di Cilandak, Jakarta Selatan.
(Tulisan saya edit agar bisa sesuai untuk dibaca fan Katolik yang umum)

Salam
Source: https://www.facebook.com/imankatolik/posts/10150543334912348

Senin, 16 Januari 2012

Iman atau Rasio

Minggu, 04 Desember 2011


IMAN atau RASIO?



IMAN atau RASIO? Ada dua ekstrim yang harus dihindari: Fideisme dan Rationalisme

Fideisme mengagungkan iman dan menganggap akal budi menghalangi karya Tuhan. Fiedeisme yaitu iman tanpa akal budi menjadikan manusia tidak manusiawi, contohnya adalah teroris, fundamentalisme agama.

Rationalisme mengagungkan akal budi dan menganggap iman tidak rasional karena tidak dapat diukur, menyebabkan ateisme. Rationalisme dalam Gereja menyebabkan ketidak percayaan terhadap mukjizat2x dalam Kitab Suci, dan tidak percaya adanya setan.

Roh manusia diibaratkan memiliki dua sayap, iman akal budi yang memampukan roh manusia terbang mencapai kontemplasi dalam kebenaran.
 
Iman dan akal Budi tidaklah bertentangan. Kita harus mendudukkan pada posisinya masing-masing. Ada pengetahuan yang tidak bisa dicapai akal budi manusia kecuali bila diberitahukan/diwahyukan Allah seperti misteri kesalamatan manusia oleh Yesus Kristus. Namun akal budi akan berusaha untuk mengerti apa yang diimaninya. Iman berusaha untuk memahami (St. Anselmus).

Dengan memahami imannya, manusia beriman akan mencapai iman yang lebih besar dan pada gillirannya akan melahirkan cinta yang besar yang menjiwai imannya. Hingga akhirnya manusia dapat mengenal kebenaran seluruh wahyu Allah, artinya, mengenal keseluruhan rencana Allah dan misteri iman, demikian juga hubungannya antara yang satu dengan yang lain dan dengan Kristus, pusat misteri yang diwahyukan.



Iman Katolik

BELAJAR MEMBELA IMAN KATOLIK BERSAMA ORIGINES (185-254)

Origines, pengajar iman dari abad ke-2. Ia semula adalah seorang katekis awam, kemudian ditahbiskan menjadi imam. Ia adalah anak dari seorang martir. Maksudnya orangtuanya adalah termasuk yang mati terbunuh dalam masa penganiayaan kepada orang kristen. Tanpa diragukan lagi Origines memiliki kecerdasan kristiani sekelas St. Paulus danSt. Agustinus

Origines bersama dengan Justinus, Iraeneus dan Tertulianus adalah pewarta iman pada abad ke-2 dan ke-3. Kita mungkin berfikir bahwa tantangan iman zaman sekarang sudah berbeda jauh dari dulu. Karena di zaman modern ini orang-orang sudah berfikiran sangat maju dan ilmiah. Maka tantangan iman zaman dahulu itu lebih mudah dari zaman sekarang. Mungkin anggapan itu tidak seluruhnya benar, bila kita mengetahui apa yang dihadapi oleh mereka.

Pada waktu kekristenan awal baru diwartakan, ajaran itu sudah banyak mengalami ejekan dan cemooh. Ada seorang pandai bernama Celsus yang sampai menulis buku yang berisi ejekan dan hinaan kepada ajaran kristen berjudul Contra Cristianum. Buku itu dikenal luas di kekaisaran Romawi dan sangat berpengaruh bagi kalangan cerdik pandai. Isinya antara lain: orang-orang kristen itu adalah orang-orang bodoh dan tidak terdidik, mereka percaya kepada hal-hal yang tidak masuk akal, pertobatan mereka kepada kekristenan juga hanya merupakan taktik dan manipulatif, Kitab Suci mereka penuh kontradiksi.

Tuduhan Celsus itu di zaman kita ini ternyata juga tetap relevan. Banyak dari umat kita memang adalah orang-orang sederhana. Mereka sebenarnya tidak tahu banyak tentang isi ajaran iman seperti yang seharusnya. Bahkan kelompok umat yang pandai di bidang ilmu mereka masing-masingpun tidak tahu banyak di bidang ajaran iman Gereja. Motivasi pertobatan juga bermacam-macam dan bisa merupakan taktik dan manipulatif juga. Ada motivasi menjadi katolik yang tercampur dengan keinginan menikah dengan pasangannya yang katolik dan motivasi lain yang tidak murni. Bahkan motivasi panggilan menjadi imam atau hidup baktipun bisa merupakan taktik dan manipulatif.

Tentang Kitab Suci yang penuh kontradiksi hampir jelas dengan sendirinya. Yesus dalam Perjanjian Baru mewartakan Allah Bapa yang penuh kasih, tetapi Umat Israel Perjanjian Lama mewartakan Yahwe yang membunuh anak sulung Mesir. Tuhan PL itu gemar perang dan membasmi seluruh suku bangsa yang sekarang ini namanya genocida atau pembasmian etnis. Sampai-sampai P. Jan van Paassen mengusulkan kepada seksi Liturgi di Roma untuk merevisi seluruh Lectionarium (Bacaan Misa) supaya dipilih kutipan yang sesuai dengan perasaan orang zaman sekarang yang sudah lebih sadar akan hak-hak azasi manusia. Dan bagian-bagian kontradiksi dari Kitab Suci itu hanya untuk para ahli saja, bukan untuk awam pada umumnya.

Origines menjawab semua tuduhan yang dihadapinya pada waktu itu dengan menulis buku Contra Celsum (melawan Celsus). Ia mulai dengan yang paling dasar bahwa iman kristiani tidak diwartakan berdasarkan argumentasi. Kebenaran injil tidak tergantung dari argumentasi manusia dan bahkan tidak tergantung dari keyakinan seorang kristiani, melainkan tergantung dari fakta-fakta obyektif dan demonstratif dari wahyu itu sendiri. Pertobatan seorang kristiani juga tidak berasal dari penyimpulan silogisme. (Contoh silogisme ialah: Orang Bali pandai menari. Made adalah orang Bali. Jadi, Made pandai menari. Padahal Made Miasa, Made Putrayasa, Made Mudita dan Made Yono tidak bisa menari).

Origines menjawab Celsus dengan mengatakan: Iman kristiani berdasarkan pada kenyataan, bukan pada argumentasi; yaitu kenyataan tentang kuasa Yesus yang telah nyata bagi semua orang; kenyataan itu tidak tergantung dari persepsi orang. Maka sejak awal, Gereja mewartakan Injil bukan dengan argumentasi, melainkan dengan proklamasi. Memang tidak bisa dihindari bahwa proklamasi atas kenyataan itu akan menghadapi penolakan.

Walaupun Origines menyatakan bahwa pewartaan Injil tidak berdasaran argumentasi, namun ia tidak menghindari argumentasi. Sebaliknya, ia menggunakan seluruh kemampuan rasionalnya juga untuk berargumentasi membela iman. Ia mengajak umat kristen untuk tidak takut berargumentasi menghadapi orang yang melawan ajaran iman kita. Ia yakin bahwa iman kristen tidak bertentangan dengan rasio. Gagasan ini kemudian akan berkembang menjadi “hukum kodrati” atau lex naturalis yang bisa berarti “ordo naturae” (hukum alam) dan “ordo rationis” (hukum akal). Hukum kodrati ini bisa menjadi “landasan bersama” pencarian kebenaran.

Kekristenan tidak berdasarkan pada argumentasi rasional, namun dengan senang hati akan menawarkan argumentasi rasional untuk menggunakan akal budi manusia sebagai kunci pembuka pintu masuk menghadapi tantangan kebudayaan pada setiap zaman, supaya kebenaran Kristus makin nampak cemerlang di hadapan semua orang.

Sujoko msc

Sumber inspirasi dari :
Dr. Jamie Blosser, Assistant Professor of Theology at Benedictine, teaches courses in church history, ecclesiology and New Testament
Source : https://www.facebook.com/gerejakatolik/posts/10150697859584638

Minggu, 15 Januari 2012

PANCA TUGAS GEREJA

PANCA TUGAS GEREJA

Katekesmus Gereja Katolik merumuskan Gereja sebagai “himpunan orang-orang yang digerakkan untuk berkumpul oleh Firman Allah, yakni, berhimpun bersama untuk membentuk Umat Allah dan yang diberi santapan dengan Tubuh kristus, menjadi Tubuh Kristus” (No 777). Existensi himpunan Umat Allah ini diwujudkan (secara lokal) dalam hidup berparoki. Di dalam paroki inilah himpunan Umat Allah mengambil bagian dan terlibat dalam menghidupkan peribadatan yang menguduskan (Liturgia), mengembangkan pewartaan Kabar Gembira (Kerygma), menghadirkan dan membangun persekutuan (Koinonia), memajukan karya cinta kasih/pelayanan (Diakonia) dan memberi kesaksian sebagai murid-murid Tuhan Yesus Kristus (Martyria).



Kehidupan umat kristiani sesudah ditinggal Tuhan Yesus, merupakan buah didikan Tuhan Yesus selama Dia aktif di tengah masyarakat 3 tahun sebelum dibunuh di salib. Kehidupan menggereja jemaat perdana telah mengungkapkan lima tugas Gereja ini. Kita bisa melihat dari Kisah para rasul 2:41-47 berikut:

“Orang-orang yang menerima perkataannya itu memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul (Kerygma) dan dalam persekutuan. Dan mereka selalu berkumpul untuk memecahkan roti dan berdoa (Liturgia). Maka ketakutanlah mereka semua, sedang rasul-rasul itu mengadakan banyak mujizat dan tanda. Dan semua orang yang telah menjadi percaya tetap bersatu(Koinonia), dan segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama, dan selalu ada dari mereka yang menjual harta miliknya, lalu membagi-bagikannya (diakonia)kepada semua orang sesuai dengan keperluan masing-masing. Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati, sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang (Martyria). Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan”.



1. Liturgi (Liturgia) berarti ikut serta dalam perayaan ibadat resmi yang dilakukan Yesus Kristus dalam Gereja-Nya kepada Allah Bapa. Ini berarti mengamalkan tiga tugas pokok Kristus sebagai Imam, Guru dan Raja. Dalam kehidupan menggereja, peribadatan menjadi sumber dan pusat hidup beriman. Melalui bidang karya ini, setiap anggota menemukan, mengakui dan menyatakan identitas Kristiani mereka dalam Gereja Katolik. Hal ini dinyatakan dengan doa, simbol, lambang-lambang dan dalam kebersamaan umat. Partisipasi aktif dalam bidang ini diwujudkan dalam memimpin perayaan liturgis tertentu seperti: memimpin Ibadat Sabda/Doa Bersama; membagi komuni; menjadi: lector, pemazmur, organis, mesdinar, paduan suara, penghias Altar dan Sakristi; dan mengambil bagian secara aktif dalam setiap perayaan dengan berdoa bersama, menjawab aklamasi, bernyanyi dan sikap badan.

2. Pewartaan (Kerygma) berarti ikut serta membawa Kabar Gembira bahwa Allah telah menyelamatkan dan menebus manusia dari dosa melalui Yesus Kristus, Putera-Nya. Melalui bidang karya ini, diharapkan dapat membantu Umat Allah untuk mendalami kebenaran Firman Allah, menumbuhkan semangat untuk menghayati hidup berdasarkan semangat Injili, dan mengusahakan pengenalan yang semakin mendalam akan pokok iman Kristiani supaya tidak mudah goyah dan tetap setia. Beberapa karya yang termasuk dalam bidang ini, misalnya: pendalaman iman, katekese para calon baptis dan persiapan penerimaan sakramen-sakramen lainnya. Termasuk dalam kerygma ini adalah pendalaman iman lebih lanjut bagi orang yang sudah Katolik lewat kegiatan-kegiatan katekese.

3. Persekutuan (Koinonia) berarti ikut serta dalam persekutuan atau persaudaraan sebagai anak-anak Bapa dengan pengantaraan Kristus dalam kuasa Roh KudusNya. Sebagai orang beriman, kita dipanggil dalam persatuan erat dengan Allah Bapa dan sesama manusia melalui Yesus Kristus, PuteraNya, dalam kuasa Roh Kudus. Melalui bidang karya ini, dapat menjadi sarana untuk membentuk jemaat yang berpusat dan menampakkan kehadiran Kristus. Hal ini berhubungan dengan ‘cura anima’ (pemeliharaan jiwa-jiwa) dan menyatukan jemaat sebagai Tubuh Mistik Kristus. Oleh karena itu diharapkan dapat menciptakan kesatuan: antar umat, umat dengan paroki/keuskupan dan umat dengan masyarakat. Paguyuban ini diwujudkan dalam menghayati hidup menggereja baik secara territorial (Keuskupan, Paroki, Stasi / Lingkungan, keluarga) maupun dalam kelompok-kelompok kategorial yang ada dalam Gereja.

4. Pelayanan (Diakonia) berarti ikut serta dalam melaksanakan karya karitatif / cinta kasih melalui aneka kegiatan amal kasih Kristiani, khususnya kepada mereka yang miskin, telantar dan tersingkir. Melalui bidang karya ini, umat beriman menyadari akan tanggungjawab pribadi mereka akan kesejahteraan sesamanya. Oleh karena itu dibutuhkan adanya kerjasama dalam kasih, keterbukaan yang penuh empati, partisipasi dan keiklasan hati untuk berbagi satu sama lain demi kepentingan seluruh jemaat (bdk. Kis 4:32-35)

5. Kesaksian (Martyria) berarti ikut serta dalam menjadi saksi Kristus bagi dunia. Hal ini dapat diwujudkan dalam menghayati hidup sehari-hari sebagai orang beriman di tempat kerja maupun di tengah masyarakat, ketika menjalin relasi dengan umat beriman lain, dan dalam relasi hidup bermasyarakat. Melalui bidang karya ini, umat beriman diharapkan dapat menjadi ragi, garam dan terang di tengah masyarakat sekitarnya. Sehingga mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.



Salam.

Source : https://www.facebook.com/note.php?note_id=10150456710675178
::KRISTUS DAN GEREJA ADALAH SATU::
Sebagaimana Mempelai Pria bersatu dengan mempelai wanita dalam satu daging.

Seluruh Kristus, Kepala dan Tubuh, satu dari yang banyak... Apakah Kepala yang berbicara atau Tubuh yang berbicara, selalu Kristuslah yang berbicara:
Ia berbicara baik dalam peranan-Nya sebagai Kepala [ex persona capitis],
maupun dalam peranan Tubuh (ex persona corporis).

Apa yang tertulis dalam Injil?
Keduanya menjadi satu daging. Itu adalah rahasia yang sangat dalam; saya mengenakannya kepada Kristus dan Gereja (Ef 5:31- 32).
Dan Tuhan sendiri berkata dalam Injil: Jadi mereka bukan lagi dua melainkan satu daging (Mat 19:6).
Seperti kamu tahu, ada dua pribadi tetapi di pihak lain hanya satu oleh hubungan perkawinan... Sebagai kepala Ia menamakan diri mempelai pria, sebagai tubuh mempelai wanita"
(St. Agustinus).

Kesatuan antara Kristus dan Gereja, Kepala dan anggota-anggota Tubuh, berarti juga bahwa kedua-duanya memang berbeda satu dari yang lain, tetapi berada dalam hubungan yang sangat pribadi. Aspek ini sering dinyatakan dengan gambar mempelai pria dan wanita. Bahwa Kristus adalah pengantin pria dari Gereja, telah dinyatakan oleh para nabi, dan Yohanes Pembaptis mengumumkannya (bdk.Yoh 3:29). Tuhan sendiri menyebut diri sebagai "pengantin pria" (Mrk 2:19). Sang Rasul melukiskan Gereja dan setiap umat beriman, yang adalah anggota Tubuh Kristus, sebagai seorang mempelai wanita, yang ia tempatkan sebagai "tunangan" Kristus Tuhan, supaya ia menjadi satu roh dengan Dia (Bdk. 1 Kor 6:15-17; 2 Kor 11:2). Gereja adalah pengantin wanita tanpa cacat dari Anak Domba tanpa cacat, (Bdk. Why 22:17; Ef 1:4; 5:27), yang "Kristus... kasihi dan untuknya Ia telah menyerahkan diri-Nya,... untuk menguduskannya" (Ef 5:25-26), yang telah Ia ikat dengan diri-Nya melalui perjanjian abadi, dan yang Ia rawat seperti tubuh-Nya sendiri (Bdk. Ef 5:29).
(Katekismus Gereja Katolik 796)

salam.
Source : https://www.facebook.com/imankatolik

Komentar